my life as ulez

Sedikit Bahasa Banten

kata-kata dalam bahasa banten
By Thus Spoke An-nuri Thursday at 1:05am

gusti/pengeran: Tuhan, ungkapan ini tidak beda dengan ungkapan dalam bahasa sunda atau jawa

mbok-mboken: kangen ibu, sejajar dengan homesick?

lelingir: pinggir atau sudut kayu atau benda yang berbentuk kubus.

gegares: tulang kering

kempol: paha

jengklok: bagian belakang dari lutut

geger: punggung

boyok: pinggang

bathuk: jidat

sanjan: berkunjung, bersilaturahmi

tampar: tali tambang

entus: kependekan dari tubagus, juga panggilan kampung untuk tubagus (gelar kebangsawanan di banten)

atut/tatu: panggilan kampung untuk ratu (gelar kebangsawanan di banten) artinya jika ada orang yang memasangkan dua nama ratu dan atut ataupun tatu, orang itu tidak mengerti tentang logika budaya banten.

ayip: panggilan kecil dari syarif(gelar paling awal dari tubagus[mengambil dari gelar syarif hidayatullah])

senong: panggilan untuk putri

seteng: panggilan untuk putra

mama: panggilan untuk ayah (pengaruh cirebon)

bape: panggilan untuk ayah (pengaruh jawa)

ibu: panggilan untuk ibu

emak: panggilan untuk ibu

keperucut ngomong: slip of tongue, keseleo lidah

cuci mulut: ngumbah cocot?

Gidir: satu alat masak yang digunakan untuk memasak, diambil dari bahasa arab Qidr, saya baru menemukan penggunaan ini di banten, di beberapa belahan pulau jawa lainnya belum saya temukan. di jawa (mataraman) biasanya menggunakan kata panci. Ketika saya katakan Gidir, penutur jawa (mataraman) bingung karena kata itu tidak dikenal. qidir=pendil

genealogi tujuh tingkatan: anak, bape, nde, buyut, cangge/jangge, warang, krepek, balung. (catatan: ketika berbincang dengan kakak ipar saya ternyata di banten ada sembilan tingkatan yakni tambahan udeg-udeg, siwur. di jawa ataupun sunda dua tingkatan ini merupakan tingkatan ke enam dan ketujuh)

tancang: Mangrove

kelarut: masuk dalam alam jin?

kanjingan: kemasukan roh halus, jin

mblekenek: ungkapan kejengkelan terhadap perilaku seseorang

gundam: heran

mari: sembuh dari sakit

wisan: selesai

tambleg: susah diperingati

upat-upati: ekspresi penolakan untuk ikut serta, membantu.

ketelayah: kebiasaan yang tumbuh dan tergerakkan secara mekanik dari ketidaksengajaan.

jojong: melakukan pekerjaan atau kegiatan tanpa peduli kegiatan orang lain. kata ini diungkapkan pada pekerjaan seseorang saat ada orang lain yang datang.

gegurun: jembatan

belondo/kethek: sisa/ampas dari pembuatan minyak kelapa

paragan: makian kemarahan, kejengkelan

(Sumber hafid qte

lelungke: tanah yang merongkol.

cikalan: sisa daging kelapa yang diparut (sumber: hafid Qte)

kaser: terlambat datang, (sumber: hafid Qte)

merongkol: kusut terkumpul, biasanya untuk sesuatu yang biasanya terurai.

bonteng: mentimun suri (serapan dari bahasa sunda?),

bekukul : bonteng muda yang tidak baik bentuknya

Kerahang: kekurangan makan sehingga selalu ingin makan

cempaluk: buah asam yang masih muda, digunakan untuk bahan tambahan untuk membuat gipang

kelungsu: biji asam

abrag: mengerjakan pekerjaan asal-asalan

usreg/ubreg: tidak bisa diam, tidak bisa tenang pada level tubuh

ore wereden: orang yang tidak bisa memiliki peliharaan karena selalu mati, tidak berbakat memelihara bindatang.

ore antrah: tidak bisa diandalkan

tonggoh: kebun yang ada di bukit

landoh: kebun yang ada di lembah

anda onde: hampir sebanding

nyeluruut: masuk tanpa diketahui

keregregan: gatal pada sekujur tubuh

kejeblog: tertipu dalam transaksi ataupun memperkirakan keuntungan

lerbugene: hilang tanpa bekas biasanya sebab umur yang sudah tue

ore weruh lelenged: menjengkelkan?

ore madak-madak: bertindak tanpa perhitungan

mitrang: tidak sopan pada sikap tubuh seperti mengangkat kaki pada saat duduk

celuthak: tidak sopan dalam hubungan dengan orang lain

gumati: teliti

aje kibir: ekspresi seperti amit-amit jabang bayi, supaya tidak meniru

kelatha-kelithu: mundar-mandir bingung, tidak tentu.

)

ngitak-ngitak: tricky

celiring: curang, tricky

betel: rambut yang disisir

mithith: sangat rapih untuk rambut yang disisir

jugale: cukup, mencukupi takaran yang dibutuhkan

mesigit: masjid (bahasa jawa lama, juga digunakan di aceh)

langgar: mushala, tidak dipakai shalat jum’at

kobong: kamar santri (kata ini ada di dalam bahasa madura)

pergele: mungkin

abong-abong: mentang-mentang (sama dengan bahasa cirebon)

dumeh: mentang-mentang (sama dengan bahasa jawa)

munasabah: memungkinkan (pengaruh bahasa arab)

wijil: biji

gelati: cari

ethes: masih segar dalam bicara. (sumber baijuri wong saiki)

lamur: rabun

wangwe: bara

atis: dingin udara/suhu

adem: sejuk dingin

anyep: dingin untuk benda padat

segare: laut (sama dengan bahasa jawa lainnya)

lamping: kain untuk melap atau digunakan sebagai pelapis antara tangan dan alat masak

lap: kain untuk membersihkan lantai.

lembulung: pohon sagu

pejitet/pej(c)erih: penakut

wani-wani angas: berani tapi takut.

cecukulan: tumbuh-tumbuhan

angger: kira, diperkirakan, sebagaimana yang diperkirakan

paleng: pusing

patak: jidat

ledeg: banyak laga

cepot: persenggamaan, kata ini hanya dipakai dalam bahasa percakapan yang tidak resmi, dalam percakapan yang resmi yang digunakan adalah diragemi, campur.

ngelinter: bermain ke mana-mana, mengunjungi banyak tempat. di daerah lainnya menggunakan kata “mintar”

kadinahe: memperlakukan secara semena-mena

kekulung: kali kecil yang mengairi sawah.

sawah seceliwik: sawah sepetak kecil

salar: mengambili sedikit bagian dari milik tiap-tiap orang.

dermage: jalan raya

tendi: permintaan untuk diberi contoh

ngeranyam: mengungkapkan keinginan yang aneh-aneh.

gili: jalan raya

Kenceng: penggorengan, wajan

tembeleng: susah diatur.

kasab: berusaha mencari penghidupan, berasal dari bahasa arab [kasb] yang bermakna berusaha, melakukan tindakan. dengan masuknya kata ini menunjukan banten dalam konsep teologis lebih dominan pada aliran asy’ariyyah.

regel: jatuhnya sesuatu dari atas ke bawah, baik itu manusia ataupun barang.

tibe: manusia jatuh, baik dari jalan kaki, berlari, ataupun dari atas ke bawah. (sama dengan bahasa jawa [surabayaan])

plere: sikap tidak ramah

ore sewadine: tidak sepantasnya

ngeduk liwet: mengangkat nasi

ngeliwet: menanak nasi

ngaroni: memasak nasi sebelum diliwet

durukan: mematangkan ubi atau pisang dalam bara api

Kodek/guwis: spatula

basi: tempat nasi

ajang: piring

urug: nambah makan porsi kedua (dalam bahasa jawa tengah “tanduk”)

Peragat: kosong setelah penuh, senggang setelah sibuk. Kata ini merupakan kata serapan dari bahasa arab: faragah (sumber dari Baijuri Wong Saiki)…sering digunakan untuk menunjukkan habisnya hidangan dan pekerjaan. kata ini hanya saya temui di banten utara, bahkan tidak saya temukan di beberapa daerah di belahan pulau jawa lainnya.

Sumeh: dalam bahasa banten tidak berarti mudah tersenyum sebagaimana digunakan dalam bahasa jawa mataraman, tetapi ia sejajar artinya dengan kata wegah, jadi jika anda orang jawa timuran atau jawa tengahan pergi ke banten jangan sekali-kali mengatakan sumeh karena itu berarti wegah. kata sumeh itu di banten sejajar dengan kata sareseh yang artinya mudah tersenyum.

Laju-Kelajon: diserap dari bahasa melayu yang berarti kecepatan atau cepat, digunakan dalam percakapan oleh pendengar yang tidak sabar menunggu kelanjutan cerita. sedangkan kata kelajon memiliki kesejajaran makna dengan kata dalam bahasa jawa mataraman kebablasan.

Ore Baharae/ore gumantiye: biasa digunakan untuk mengungkapkan hal remeh yang sebelumnya dianggap sesuatu yang dianggap wah.

Ngarep Syuhur: bermakna (ngarep) berharap dan (syuhur) terkenal untuk mengungkapkan keinginan untuk melakukan tindakan yang sesungguhnya di luar kemampuan dirinya. Biasanya digunakan juga kata kiarman.

Sungkan Apes: diungkapkan pada watak seorang yang tidak mau mengalah atau merendah dalam melakukan sesuatu.

Sungkan Serakah: diungkapkan pada watak seorang yang tidak mau gigih dalam mencapai sesuatu.

Maras: bermakna gugup, biasanya menunjukkan satu keadaan kewaspadaan yang limbung karena menghadapi satu keadaan yang diluar dugaan ataupun disebabkan teror dari pihak lain.

Pengalitan: satu sifat yang menggambarkan sifat manusia yang tidak mensyukuri keadaan, pada saat hujan mengeluhkan hujan, pada saat kemarau mengeluhkan hujan. pengalitan mungkin berasal dari kata “alit” artinya kecil, mungkin agak sejajar dengan kata dalam bahasa inggris pada kata “childish”, tetapi pada nuansa yang berbeda. karena pengalitan lebih merujuk pada sifat kekanakan dalam kontek tasawuf, sebagaimana posisi banten pada masa lampau merupakan salah satu pusat perkembangan ilmu keislaman di Jawa.

Bebuang: bahasa sopan dari ngising (melayu: Buang Hajat), di banten, kata ini diungkapkan pada konteks tertentu seperti di meja makan atau di tempat-tempat yang tidak pantas jika diperdengarkan kata ini.

mesakat: bermakna susah payah, merupakan serapan dari bahasa arab masyaqah yang bermakna sama.

kederat: bermakna karakter yang tidak bisa diubah, serapan dari bahasa melayu dari kata kodrat yang merupakan serapan dari bahasa arab Qudrah berarti kekuatan yang bergeser maknanya.

tulung urip: ungkapan untuk keluhan akan susahnya perjuangan, upaya ataupun pekerjaan yang dilakukan.

wayah uge: ungkapan untuk mendoakan seseorang yang terlalu sombong dengan kekuatan, keadaan unggul ataupun kekayaannya sehingga tuhan mencabut semuanya.

penasten: tindakan usil karena tidak suka, keadaan hati yang tidak suka dengan keadaan senang orang lain (di beberapa tempat di jawa tengah kata ini digunakan)

alo: kemenakan, tetapi biasa digunakan untuk memanggi orang yang lebih mudah. Pasangan dari sapaan ini adalah mamang.

mejrut: pecundang (loser) diungkapkan dalam permainan anak-anak bagi peserta permainan yang selalu kalah dalam setiap putaran permainan.

ketelimbeng: hilang konsentrasi karena begitu banyaknya hal yang datang dalam perhatian.

mudag-madig: bolak-balik

abad-ubed: serangkaian tindakan/pekerjaan  yang tidak terarah dan tidak tersistematisir.

kebuntrak-buntrak: mengerjakan pekerjaan dengan terburu-buru karena kurang persiapan.

ingkra-ingkri: membawa barang banyak dari satu tempat ke tempat lainnya. biasanya tujuan perjalanan yang panjang dan mengampiri banyak tempat.

kiarman: (yang pasti bukan istrinya nyiarman hehehe), sebuah keadaan tindakan yang melampaui batas dari kemampuan dari si pelaku.

kite/ingsun: saya/kita adayang unik dalam penggunaan kata ganti persona, yakni di banten lebih menggunakan kata kite (yang bermakna kita) dari pada ingsun yang umum digunakan di cirebon.

raka/kaka: panggilan untuk orang yang dianggap tua, lawan katanya adi (pada masa lampau digunakan kata rayi)

klawas-klewes: tersipu malu, karena ketahuan sedang melakukan sesuatu oleh orang yang sudah dikenal.

subuh ijo: pagi sekali

bengi ireng: tengah malam

tengange: pertengahan hari

miarsani: memperhatikan

margi: oleh sebab

ises: berperilaku sesuai kepantasan

mataitil/memen: menunjukkan sifat orang yang selalu ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain.

sire: kamu

thukmis: matakeranjang (dijawa tengah atau timur ada)

deweke: dia

payon: atap rumah.

jerumah: kamar.

(Masukan:

cumplung=buah kelapa kering yang jatuh

Blukang= belahan sisi buah kelapa

Terwengkal= potongan genteng untuk mengganjal tungku

ngadangos= memperhatikan dengan menopang dagu

Depe=1 hasta/1lebar tangan,

lembedang iku mun bahasa arabe artine misykat…, bahasa inggrise niche, bahasa indonesiane ceruk dinding.)

(masukan II:

Ngathik=ngegawe(membawa)

gemledeg= sifat aktif pada anak kecil

jorangan= bercanda

alad-alad/kderate= dasar)

(masukanIII:

deder=menyemai bibit

Deder=lari tuunggang langgang

Potel=patah

Kapiasem=tertawa/tersenyum simpul)

(masukanIV: Teledek=…..;Sumbrah=…..;Ngedepok=…..;Ngelekor=…;Kebelegong=…;Keberusut=…;Kegeludag=…;Anda onde=…)

(catatan: bahasa banten tidak pelak lagi merupakan perkembangan dari bahasa jawa (masa demak, sesudah majapahit, sebelum mataraman) bersama dengan berdirinya kerajaan islam demak yang melingkupi seluruh wilayah jawa, barat, tengah dan timur. Tetapi pada perkembangannya kemudian bahasa ini berkembang setelah pada masa sultan ageng tirtayasa berhasil menjadikan kerajaan ini sebagai salah satu pusat perkembangan kajian islam di Asia (selain aceh, India) dengan kedatangan syeikh yusuf yang asli makassar yang kemudian menjadi menantunya. menurut teman saya seorang ahli linguistik, URI Tadmor, kebangsaan israel dan bahawa bahasa banten terbagi dua dialek yakni dialek ‘e’ dan ‘a’. yang membedakan dua dialek itu adalah kedekatan dengan pusat kerajaan. artinya daerah-daerah yang dekat dengan pusat kerajaan berdialek ‘e’ seperti serang dan cilegon, sedangkan daerah yang jauh berdialek ‘a’.  menurutnya ini merupakan jejak dari indianisasi dari bahasa banten yang terjadi pula pada bahasa jawa mataraman. bagi saya ada benarnya juga, ketika saya berkunjung ke daerah tanah ara (dengan baijuri) saya menemui ekspresi penduduk sana yang mengatakan bahwa orang cilegon dan orang serang memiliki bahasa yang halus. tetapi saya kira hal itu hanya ekspresi penghormatan belaka. pada beberapa daerah yang ada di tengah ataupun selatan, bahasa banten semakin mendapat pengaruh bahasa sunda, meskipun bahasa sunda banten dinilai orang-orang priangan sebagai bahasa yang kasar. padahal justru bahasa sunda banten adalah bahasa yang tidak mendapatkan pengaruh mataram, artinya lebih independen, bahasa jawa yang tidak terpengaruh mataram adalah bahasa banyumasan)

 

di banten, terdapat pembagian bahasa yang digunakan oleh kalangan berpangkat, ningrat (menak) dan orang kampung. suatu ketika saya mengatakan kepada ibu saya kata guwis (spatula) pada saat itu juga ibu saya menegur bahwa kata itu hanya berlaku di kampung dan diucapkan oleh orang kampung. kata yang biasa dia gunakan adalah kodek.

untuk daerah tengah, barat dan selatan, masyarakat banten lebih dekat menuturkan dengan bahasa sunda. meskipun sunda yang ada pada masyarakat banten (di telinga orang priyangan begitu kasar) karena pilihan kata yang berbeda seperti perempuan disebut dengan ewean yang artinya yang biasa disenggamai, ataupun bikang yang artinya barang perempuan. atau banyak kata-kata lainnya. tetapi justru bahasa sunda yang ada di banten merupakan bahasa sunda yang tidak terpengaruh jawa (baik mataram, demak ataupun cirebon) sebagaimana sunda priyangan yang mengenal strata bahasa.

pada beberapa kata di atas merupakan bahasa percakapan yang sifat sangat lokal, artinya, terkadang kata di satu kampung berbeda dengan kampung lainnya. sehingga bahasa jawa di banten termasuk daerah yang dinamika bahasa percakapannya tinggi.

Tambahan info dari wikipedia:

Menurut sejarahnya, bahasa Jawa Banten mulai dituturkan di zaman Kesultanan Banten pada abad ke-16. Di zaman itu, bahasa Jawa yang diucapkan di Banten tiada bedanya dengan bahasa di Cirebon, sedikit diwarnai dialek Banyumasan. Asal muasal kerajaan Banten memang berasal laskar gabungan Demak dan Cirebon yang berhasil merebut wilayah pesisir utara Kerajaan Pajajaran. Namun, bahasa Jawa Banten mulai terlihat bedanya, apa lagi daerah penuturannya dikelilingi daerah penuturan bahasa Sunda dan Betawi.

Bahasa ini menjadi bahasa utama Kesultanan Banten (tingkatan bebasan) yang menempati Keraton Surosowan. Bahasa ini juga menjadi bahasa sehari – harinya warga Banten Lor (Banten Utara).

Bahasa Jawa Banten atau bahasa Jawa dialek Banten ini dituturkan di bagian utara Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon dan daerah barat Kabupaten Tangerang. Dialek ini dianggap sebagai dialek kuno juga banyak pengaruh bahasa Sunda dan Betawi.

Bahasa Jawa di Banten terdapat dua tingkatan. Yaitu tingkatan bebasan (krama) dan standar.
Dalam bahasa Jawa dialek Banten (Jawa Serang), pengucapan huruf ‘e’, ada dua versi. ada yang diucapkan ‘e’ saja, seperti pada kata “teman”. Dan juga ada yang diucapkan ‘a’, seperti pada kata “Apa”. Daerah yang melafalkan ‘a’ adalah kecamatan Keragilan, Kibin, Cikande, Kopo, Pamarayan, dan daerah timurnya. Sedangkan daerah yang melafalkan ‘e’ adalah kecamatan Serang, Cipocok Jaya, Kasemen, Bojonegara, Kramatwatu, Ciruas, Anyer, dan seberang baratnya.

Contoh :

  • ‘kule’, dibaca ‘kula’ atau ‘kule’. (artinya, saya)
  • ‘ore’, dibaca ‘ora’ atau ‘ore’. (artinya, tidak)
  • ‘pire’, dibaca ‘pira’ atau ‘pire’ (artinya, berapa)

Contoh :
(B.Jawa Banten tingkat bebasan)

  • Pripun kabare? Sampean ayun ning pundi?
  • Sampun dahar dereng?
  • Permios, kule boten uning griyane kang Haban niku ning pundi?
  • Kasihe sinten?
  • Kasihe Haban Ghazali lamun boten salah.
  • Oh, wenten ning payun koh.
  • Matur nuhun nggih, kang.
  • Yewis, napik dolanan saos nggih!
  • Kang Haban! Ning pundi saos? boten ilok kepetuk!
  • Napik mengkoten, geh!
  • Kule linggar sareng teh Toyah ning pasar.
  • Ayun tumbas sate Bandeng sios.

(B.Jawa Banten tingkat standar)

  • Kepremen kabare? Sire arep ning endi?
  • Wis mangan durung?
  • Punten, kite ore weruh umahe kang Haban kuwen ning endi?
  • Ngarane sape?
  • Ngarane Haban Ghazali ari ore salah.
  • Oh, ning arep koh.
  • Nuhun ye, kang.
  • Yewis, aje memengan bae ye!
  • Kang Haban! Ning endi bae? ore ilok kependak!
  • Aje mengkonon, Geh!
  • Kite lunge karo teh Toyah ning pasar.
  • Arep tuku sate Bandeng siji.

(B.Indonesia)

  • Bagaimana kabarnya? Kamu mau kemana?
  • Sudah makan belum?
  • Maaf, saya tidak tahu rumahnya kang Haban itu dimana?
  • Namanya siapa?
  • Namanya Haban Ghazali kalau tidak salah.
  • Oh, di depan tuh.
  • Terima kasih ya, kang.
  • Ya sudah, jangan bermain saja ya!
  • Kang Haban! Kemana saja? tidak pernah bertemu!
  • Jangan begitu, geh!
  • Saya pergi dengan teh Toyah ke pasar.
  • Mau beli sate Bandeng satu.

Posted with WordPress for mobile device apologize for typing limitations

4 responses

  1. sedap !
    makasih atas informasinya

    jadi nama ratu atut choisiyah… ? :p

    September 19, 2010 at 11:55 am

  2. YUUUK MAMPIR NGOPI DIKIT LAH…

    December 20, 2012 at 4:38 pm

    • ulez

      Banyak geh boleh🙂

      January 23, 2013 at 2:08 pm

  3. frenday

    belajarr dlu spaya gg grogi di banten nty keprimen kabare sue ore mrene

    January 5, 2014 at 11:16 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s